Showing posts with label Diving. Show all posts
Showing posts with label Diving. Show all posts

Thursday, April 7, 2016

Selayang Pandang BlackTrail Raja Ampat dari National Geographic

Sebuah iklan besar di umumkan beberapa kali di majalah National Geographic Indonesia kala itu. Iya, pengalaman itu ternyata sudah sudah tiga tahun lebih berlalu, dan aku masih tetap ingin menuliskannya. Kebetulan aku berlangganan dan mengoleksi majalah ini sejak muncul edisi berbahasa Indonesia, walaupun beberapa edisi gagal aku koleksi. Iklan yang menawarkan petualangan seru ke lima destinasi yang masing-masing tentunya menawarkan keseruannya. Blacktrail, begitulah judul besar even ini. Sebuah even yang diadakan oleh nama besar National Geographic yang disponsori oleh sebuah produsen pembersih muka dengan produknya L’Oreal Men Expert. Tidak tanggung-tanggung, even tersebut merupakan bagian dari acara yang bernuansa petualangan yang ditayangkan oleh Kompas TV. Teroka nama acara tersebut, dengan host yang dikenal cukup ulet mempromosikan potensi alam nusantara dari sudut pandangnya. Dia adalah Cahyo Alkantana, yang bagi penggiat caving pasti sudah tidak asing lagi namanya. Tidak hanya itu, untuk memikat even petualangan yang ingin menonjolkan sisi maskulin, bintang tamu yang dihadirkan adalah seorang aktor ternama yang telah membintangi sejumlah film nasional, dialah Nicholas Saputra.







Blacktrail sendiri pada waktu aku tertarik untuk mencoba peruntungan mengikutinya telah diadakan di tiga destinasi, yaitu Pulau Komodo, Gunung Rinjani, Sungai Tangkahan. Sedangkan bulan itu akan diadakan di Dayak Iban. Artinya dari kelima destinasi yang ditawarkan tinggal satu destinasi lagi yang bisa diikuti. Pada masing-masing destinasi, lima orang yang beruntung diajak berpetualang gratis ke destinasi tersebut. Bedanya, untuk destinasi terakhir yang akan diselenggarakan di akhir tahun 2012 itu hanya tiga orang saja yang berkesempatan untuk menjadi pemenang. Sedangkan dua orang lagi akan dipilih dari pemenang pada destinasi sebelumnya, sehingga jumlahnya tetap lima orang. Bisa dikatakan peluangku untuk menang menjadi lebih kecil. Pada destinasi-destinasi sebelumnya, aku memang sengaja tidak mendaftar karena lebih memilih destinasi yang ada kegiatan menyelamnya. Padahal sewaktu destinasi Pulau Komodo, selain menyapa sang naga purba juga diselingi kegiatan menyelam. Aku sebenarnya sedikit menyesal karena terlambat merespon iklannya sehingga tidak sempat mendaftarkan diri.


Mengenai persyaratan untuk pendaftaran pada even ini terbilang sangat simpel. Hanya berbekal struk pembelian produk sponsor dan memiliki akun twitter atau facebook saja sudah cukup sebagai modal untuk mendaftar. Akupun segera beranjak ke salah satu minimarket yang tidak terlalu jauh dari tempat kos di sekitaran kampusku. Kebetulan juga waktu itu statusku sebagai mahasiswa pascasarjana di sebuah kampus negeri di Bogor. Berbekal uang pas-pasan yang kubawa ke minimarket, hanya untuk mendapatkan struk, akhirnya aku mendaftarkan diri di hari terakhir batas pendaftaran. Menjelang tengah malam aku baru berhasil mengunggahnya. Benar-benar injury time. Tetapi lega rasanya, dan tinggal menunggu hasil pengumumam untuk seleksi selanjutnya. Beberapa hari kemudian aku terima kabar dari panitia, bahwa aku lolos ke tahap selanjutnya. Syaratnya adalah membuat esai singkat mengenai pengalaman petualangan yang pernah kulakukan. Aku mengerjakan dalam waktu kurang dari satu jam di perpustakaan kantorku, kemudian dibaca dan dikomentari oleh teman kantor yang sekarang sudah almarhumah. Aku kirimkan kembali persyaratan yang diminta oleh panitia seleksi.


Beberapa hari kemudian, aku dipanggil untuk interview ke kantor National Geographic Indonesia di Jakarta. Aku termasuk satu dari sepuluh orang nominator. Padahal posisinya hari itu aku ada jadwal kuliah yang statusnya aku wajib hadir. Dengan penjelasan sejujurnya, aku meminta ijin kepada dosennya untuk mangkir dari kuliah, dan ternyata diijinkan dengan syarat mengganti di hari lain. Sampai di sini berbagai kemudahan yang aku rasakan, dan semoga terus dilancarkan sampai interview. Masalahnya, aku sangat awam dengan Jakarta Barat, sehingga agak sulit bagiku menemukan lokasi interview. Taksi jua lah pilihan paling rasional untuk mencapai tempat tujuan. Sebelum jadwal interview, aku telah tiba di kantor NG Indonesia dan bertemu beberapa nominator lain. Sempat berkenalan dan ngobrol-ngobrol sedikit dengan mereka. Saat interview, ada tiga orang interviewer yang kuhadapi. Aku lupa siapa saja namanya yang jelas mereka dari NG dan dari sponsor. Intinya, aku ceritakan beberapa pengalamanku terutama di bidang penyelaman. Karena sebagian pekerjaanku menyelam, dengan pengalaman menyelam yang cukup banyak itu aku yakin menjadi poin tersendiri yang akan dipertimbangkan oleh para interviewer. Apalagi kegiatan Blactrail Raja Ampat nanti utamanya adalah menyelam.

Tidak meleset, beberapa hari kemudian namaku muncul sebagai pemenangnya. Yes…. berangkat juga ke Raja Ampat, surganya para penyelam dunia. Salah satu lokasi penyelam impianku selain Wakatobi, Takabonerate dan Banda Neira. Sebelum hari keberangkatan, panitia memanggil lagi untuk technical meeting, kali ini tidak di kantor NG, tapi di kantor L’Oreal. Di sana aku ketemu dengan tiga pemenang lainnya, yaitu Indra, Zamroni dan Yudi. Satu pemenang lainnya tidak bisa hadir karena berdomosili di Makassar. Selain itu, kami juga dipertemukan dengan kru Kompas TV, Fitra dari NG, Indarto dari L’Oreal dan dua orang instruktur selam NG yaitu dua bersaudara Glenn dan Michael Sjukrie.













Hari keberangkatan pun tiba. Aku berangkat dari kantor dan berkumpul di tempat yang telah disepakati di bandara Soetta. Begitu semua sudah kumpul, seporsi makan malam pun dibagikan ke seluruh anggota tim. Jadi, total anggota tim adalah sebanyak 15 orang. Kalau disebut satu per satu anggota tim yaitu lima orang pemenang (aku, Indra, Zamroni, Yudi dan Husni), tim dari L’Oreal (Nicholas Saputra dan Indarto), tim dari Teroka Kompas TV (Cahyo Alkantana, Daday, Lawin, Qidqid dan satu lagi lupa namanya), dan tentu saja tim dari NG Indonesia (Vitra serta duo bersaudara NG dive instructor Glenn dan Michael Sjukrie). Praktis, hanya satu cewek dalam tim ini, Qidqid. Menggunakan pesawat Batavia Air Y6-845 kami berangkat dari terminal 1B pukul 22:45 WIB menuju Sorong dengan transit sebentar di Makassar. Di bandara Sultan Hasanuddin kami sempat menikmati secangkir kopi sembari menunggu jadwal penerbangan selanjutnya. Waktu itu memang belum ada penerbangan Garuda menuju ke Sorong. Total perjalanan dari Jakarta menuju ke Sorong ditempuh dalam waktu sekitar 7 jam. Kami tiba di bandara Domine Eduardo Osok, pagi sekitar pukul 08:00 WIT.


Kesan pertama ketika masuk ke areal ruang kedatangan bandara ini adalah, banyak orang yang hitam kulit dan keriting rambut. Ya tentu lah, kan di tanah Papua. Jadi keingat lagu yang didedikasikan untuk masyarakat Papua di film Di Timur Matahari karya Ari Sihasale. Yang jelas, kondisi bandara sangat minim. Cuaca di luar yang hangat telah membelai kulit dengan begitu mesranya. Lapar mendera. Dari bandara kami mampir sarapan di sebuah warung Coto Makassar Bhatta yang terletak di pinggir jalan di seberang pantai. Selanjutnya, kami menuju dermaga penyeberangan privat Usahamina untuk naik speed boat menuju base camp di Kepulauan Raja Ampat.

Kondisi laut sangat bersahabat di pagi yang terik itu. Tiga jam kira-kira lama perjalanan dari kota Sorong menuju ke resort. Aku mencari posisi duduk yang paling nyaman yang masih tersisa untuk sekedar menikmati perjalanan ini. Sebagian anggota tim asyik dengan kamera atau ponsenya masing-masing, bahkan ada juga yang terlelap untuk menuntaskan hutang tidur yang tersita karena perjalanan panjang semalam. Zamroni bahkan berkelakar bahwa tidur selama perjalanan di pesawat sepertinya masih belum cukup baginya yang katanya yang masih dalam taraf pertumbuhan ini.

Speed boat tiba-tiba melambat dan mulai membelok. Tibalah kami di sebuah tempat yang akan menjadi base camp selama even ini. Namanya Raja Ampat Dive Lodge yang terletak di Pulau Mansuar. Kami disambut oleh kru resort yang memakai pakaian adat salah satu daerah di Papua. Namun secara umum resort ini bernuansa Bali. Benar saja, ternyata owner dari resort ini adalah orang Bali. Setelah urusan check-in dan pembagian kamar, kami beristirahat sejenak. Aku kebagian sekamar dengan Zamroni. Selesai makan siang, ada instruksi kalau sore hari nanti akan direncanakan check dive untuk memastikan segala kesiapan peserta dan sesuatu yang perlu dikoreksi. Lokasi yang dipilih adalah di seputaran jetty (dermaga kayu) di depan resort. Setengah jam lebih check dive dilakukan, dan ternyata walaupun lokasinya hanya berada di depan resort tapi ikan dan biota lainnya cukup beragam, walau kondisi karangnya hancur.
















Keesokan harinya, penyelaman yang sebenarnya baru dimulai, walaupun bagiku check dive itu pun aku lakukan dengan serius dan benar-benar memperhatikan prosedur selam. Selama 3 hari ke depan kegiatan diisi dengan menyelam, dengan total penyelaman adalah 11 kali termasuk check dive, dengan formasi penyelaman 1-4-4-2. Titik-titik penyelaman yang direncanakan adalah Arborek Jetty, Manta Sandy Bottom, Yenbuba Corner, Cape Kri, Chicken Reef, Mike’s Point, Kuburan Point, Blue Magic, Mioskon, dan penyelaman terakhir kembali ke Manta Sandy Bottom. Airborek Jetty menawarkan suguhan kekayaan biota di seputar jetty, terutama soft coral dan berbagai jenis ikan. Manta Sandy Botto merupakan sebuah panggung atraksi manta, lokasi ini merupakan lokasi mencari makan bagi manta karena mungkin plankton yang melimpah. Melalui batas yang telah ditentukan, kami berdiam dengan fin pifotting di kedalaman 15 meter. Manta menjadikan lokasi ini sebagai cleaning station bagi mereka. Karang yang terlihat hanyalah dari kelompok boulder di antara hamparan pasir.akan tetapi ikan cukup beragam, terutama yang berinteraksi langsung dengan manta dalam sebuah hubungan simbiosis mutualisme. Yenbuba Corner menampilkan atraksi berbagai jenis ikan yang berasosiasi dengan karang yang cukup beragam di lokasi ini. Cape Kri merupakan lokasi penyelaman dimana berbagai jenis ikan melintas dalam kondisi schooling di satu tempat. Sebut saja, school of jackfish, grouper, snapper, barracuda bahkan black tip-shark juga beberapa kali melintas. Di akhir penyelaman, arus menghantam cukup kuat hingga diperlukan memasang hook. Kami pun berebut posisi untuk menjaga diri dari terpaan massa air agar tidak hanyut. Dalam keadaan yang demikian pun pandangan kami masih terpaut pada pesta pora ikan yang sedang memamerkan kekeluargaan mereka. Mike’s Point terletak di sebuah pulau karang kecil yang memiliki arus cukup kuat, sebuah indikasi bahwa di lokasi itu banyak ikan bermain. Di lokasi ini terdapat goa yang terdapat banyak ular laut, keanekaragaman jenis karang yang menjadikan pemandangan spektakuler dan schooling batfish yang seolah mengajakku bercengkerama. Blue Magic selain memiliki keanekaragaman karang dan ikan yang fantastis juga merupakan habitat dari wobbegong, atau juga dikenal dengan sebutan hiu karpet. Penyelaman di Kuburan Point dilakukan menjelang senja. Walaupun kondisi karang kurang bagus, berkat kejelian dive guide kami diajak menyapa beberapa ekor pigmy seahorse yang berpegangan pada akar bahar. Saking kecilnya, kameraku tidak bisa menangkap fokus ikan yang termasuk dalam keluarga kuda laut ini. Blue Magic yang merupakan bukit karang dengan puncak berada di kedalaman 9 meter di bawah permukaan juga laut memiliki arus yang juga lumayan kencang. Dan di Mioskon juga disajikan keanekaragaman karang dan ikan.



Kelar sudah rangkaian kegiatan penyelaman kali ini. Begitu cepat selesainya, kurang rasanya, tapi cukup terpuaskan dengan tontonan kekayaan ekosistem terumbu karang di salah satu sisi bird-head seascape ini. Walaupun demikian, aku yakin bahwa yang aku lihat sama sekali belum bisa merepresentasikan kekayaan biota laut perairan ini. Jelas saja, penyelaman hanya dilakukan di sekitar Selat Dampier, hanya bagian kecil dari Kabupaten Kepulauan Raja Ampat. Bagaimanapun juga, even ini aku anggap sebagai hadiah terindah dari National Geographic Indonesia dan L’Oreal. Hadiah selanjutnya adalah mengunjungi Wayag, sebuah bentang alam yang menjadi ikon Raja Ampat dan juga kebanggaan Indonesia yang direncanakan esok. Tidak hanya itu, hadiah lainnya adalah kami juga mendapatkan lisensi selam khusus yaitu National Geographic Diver yang berafiliasi dengan organisasi selam internasional PADI.

Tujuan final di Raja Ampat adalah Wayag. Estimasi lama perjalanan dari resort menuju wayag memakan waktu 3 jam dengan speed boat dalam kondisi perairan yang bersahabat. Durasinya akan sedikit lebih lama apabila kondisi laut sedang bergejolak. Itu artinya bahwa jam 6 pagi kami sudah beres sarapan dan bersiap berangkat. Ternyata kurang dari 3 jam kami pun melihat dari kejauhan gugusan kepulauan kecil Wayag. Wayag terletak di ujung utara Kabupaten Kepulauan Raja Ampat. Saat sampai di Wayag, kami harus melapor dulu ke kantor Conservation International. Di jetty stasiun CI, kami cukup terhibur oleh hadirnya beberapa ekor blacktip shark yang dengan tenangnya bermain-main dekat bibir pantai.



Proses perijinan sudah beres, waktunya kembali menuju ke tujuan semula, Wayag. Speed boat memasuki sebuah cekungan yang dikelilingi oleh perbukitan karang. Di salah satu bukit yang telah ditentukan itulah kami akan dibuat merinding oleh kebesaran Sang Maha Kuasa. Di sebuah pantai berpasir putih, speed boat berhenti dan semua penumpang turun ke pantai untuk bersiap mendaki. Iya, mendaki bukit karang. Mencapai puncak Wayag ternyata tidak mudah, seperti sebuah slogan ‘untuk mencapai surga butuh perjuangan dan pengorbanan’. Apalagi setelah tiga hari penyelaman, melalui perjalanan panjang, dan kondisi fisik yang mulai menurun. Bagiku, walaupun jalur pendakian tidak terlalu tinggi dan relatif mudah, namun ternyata hampir membuatku pingsan. Pelan-pelan akhirnya aku pun tiba di puncak bukit. Sejenak mata kupejamkan, mengatur nafas dan bersiap menerima hadiah dari alam. Memang benar apa yang terlihat dari foto-foto di internet tentang Wayag. Hari itu aku berhasil membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri, dan mengabadikan dengan kameraku sebagai bahan untuk berbagi kelak. Kami benar-benar merasa terharu, dan terhipnotis oleh surge dunia tanah Papua.



Sampai di sini perjalanan kami dalam even BlackTrail destinasi terakhir 2012, Raja Ampat. Ada dua hal penting bagiku tentang perjalanan ke Raja Ampat. Pertama, ke Raja Ampat kalau tidak menyelam ya lebih baik ke tempat lain yang lebih terjangkau biaya dan waktu. Kedua, ke Raja Ampat kalau belum sampai di puncak Wayag sama saja dengan belum sah. Karena memang begitulah realitanya. Raja Ampat sangat identik dengan kegiatan penyelaman yang melibatkan kekayaan biota lautnya, dan pendakian puncak Wayag yang berarti menangkap eksotisme bentang alamnya. Sebuah warisan anak cucu masyarakat nusantara yang dititipkan kepada saudara-saudara kita di tanah Papua yang harus dijaga bersama. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga keutuhannya. Kalau tidak mulai dari sekarang, kapan lagi kita tergerak untuk menjaga kelestariannya. Dengan retribusi sejumlah Rp. 100.000,- (dan Rp. 250.000,- untuk turis asing) dalam bentuk sebuah pin bagi turis domestik untuk masuk ke wilayah Raja Ampat pun sebenarnya masih terlalu murah dibandingkan dengan kepuasan yang didapatkan. Apapun itu, dengan pengalaman menyelami perairan dan menjejaki tanah Papua ini berarti memperlebar jelajahku mengenal nusantara. Karena trip ke Raja Ampat ini adalah yang pertama bagiku ke wilayah Papua. Dan aku bertekat untuk datang kembali ke Papua di lain waktu, entah di bagian mana dari bumi cenderawasih ini. Sampai jumpa lagi, Raja Ampat. (Some photos take by Mike Sjukrie and Indra Adi Wijaya).

Hitam kulit, keriting rambut, aku Papua…






Bitung, 31032016, 11:22pm
*catatan seorang pejalan

Friday, June 26, 2015

Mentawai Bukan Hanya Tentang Surfing

Koloni karang Mentawai
Dulu, aku pingin banget punya kesempatan bisa pergi ke Kepulauan Mentawai, sekedar mengobati rasa penasaran akan ketenaran pulau di sebelah barat Sumatra itu. Nama Mentawai kian ‘tersohor’ ketika gempa bumi dahsyat yang diikuti dengan gelombang tsunami di akhir tahun 2004 menghantam pulau ini, beserta Aceh dan Pulau Nias. Akses menuju Pulau Mentawa relatif tidak mudah, hal itu yang menjadi penyebab pembangunan kurang terasa perkembangannya. Mentawai memang memiliki bandara perintis yang melayani penerbangan kalau tidak salah hanya tiga kali dalam seminggu, dan juga pelabuhan laut yang menjadi tempat bersandar kapal roro. Dengan menumpang kapal cepat yang biasa melayani turis untuk pergi berselancar, penyeberangan dari Padang menuju Mentawai biasanya dapat ditempuh selama sekitar 6-7 jam. 


KM Indo 2 yang dicarter untuk penyeberangan

Penyeberangan ke Mentawai  dengan kapal carteran umumnya dilakukan pada malam hari, sebelum tengah malam, walaupun tetap ada penyeberangan di siang hari. Tidak jelas apa sebenarnya alasan spesifik mengenai pemilihan waktu penyeberangan itu. Aku pun juga tidak mempermasalahkan waktu, karena dengan penyeberangan malam tersebut paling tidak aku tidak merasakan bosan saat melalui perjalanan. Saat berangkat sudah mendekati jam tidur, dan begitu bangun sudah waktunya bangun di hari subuh. Dengan perjalanan yang bertepatan dengan jam tidur, kita juga diuntungkan untuk satu hal, yaitu sedikit terhindar dari mabuk laut karena kita dalam keadaan tertidur. Lagipula, tidak banyak yang dapat dilihat selama perjalanan walaupun hari terang, paling-paling jika beruntung hanya kawanan lumba-lumba yang menyapa. Jadi, apapun yang terjadi di tengah malam tidak perlu dipedulikan, selama itu kejadian yang wajar, termasuk badai yang biasanya terjadi di malam hari. Saat perjalanan berangkat ke Mentawai dan pulang kembali menuju Padang, ternyata terjadi badai yang lumayan besar. Bahkan terdengar kabar bahwa beberapa kapal yang akan menyeberang malam itu terpaksa kembali ke pelabuhan dan membatalkan penyeberangan. Saat itu posisi kapal yang aku tumpangi, KM Indo 2, sedang berada di tengah-tengah perjalanan sehingga tetap saja melaju menembus badai. Sedangkan mereka yang terpaksa memutar haluan rata-rata belum cukup jauh meninggalkan pelabuhan. Dan, aku sama sekali tidak menyadari adanya badai karena sedang terlelap baik di waktu berangkat maupun pulang, mungkin juga karena pengaruh obat. Aku baru percaya berita bahwa semalam terjadi badai saat mendapati karpet di bagian ruang santai kapal dalam keadaan basah kuyup, pertanda air hujan masuk ke dalam ruang tersebut. Jika hanya hujan biasa, kemungkinan air mampu membuat karpet sebegitu basahnya sangat kecil memngingat desain kapal yang tidak memungkinkan untuk itu.


Ke Mentawai biasanya untuk surfing
Sayangnya, kedatanganku ke Mentawai bukan untuk menikmati deburan ombak di atas papan surfing, bukan juga untuk menikmati pantai pasir putih di atas sebuah kain pantai berteman es kelapa muda, atau acara piknik pantai lainnya. Kedatanganku tidak lain adalah untuk bekerja, melakukan penyelaman di beberapa lokasi yang terdapat terumbu karang. Penyelamannya pun buka fun dive, tapi pengambilan data lapangan alias penelitian. Apa yang aku lakukan memang bukan sesuatu yang lazim di wilayah perairan Mentawai, atau mungkin belum lazim, karena memang belum banyak diketahui potensi bawah air yang diketahui di wilayah ini. Tidak banyak kegiatan penyelaman yang pernah dilakukan, kondisi ombak yang kurang bersahabat mungkin yang menjadi faktor penyebabnya. Lagipula, sebagian besar perairan umumnya keruh sehingga bukan menjadi tempat yang menyenangkan untuk penyelaman dengan tujuan fun.

Pulau kecil di sekitar Pulau Siberut
Salah satu spot untuk surfing

Kipas laut (Gorgonia), biota yang mampu bertahan di perairan dengan gelombang


Ikan nemo di sekitar anemon
Beruntung aku beserta rombongan selamku bertemu dengan salah satu yayasan di kota Padang. Yayasan aku maksud awalnya adalah sebuah LSM yang intens menyoroti masalah-masalah lingkungan di wilayah perairan Sumatra Barat. Mereka sudah cukup dikenal di kalangan pemerintah daerah tingkat propinsi maupun kabupaten/kota di seluruh wilayah Sumatra Baarat. Personil-personil yang mereka miliki rata-rata memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi, serta keahlian-keahlian khusus lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Beberapa personil bahkan tidak jarang mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian tim untuk mengerjakan proyek-proyek lingkungan di beberapa wilayah lain di Indonesia. Tercatat, mereka telah beberapa kali melakukan kegiatan penyelaman di Mentawai, sehingga dapat dikatakan telah memeiliki modal untuk mendapatkan lokasi-lokasi penyelaman yang diinginkan. Memang tidak banyak pilihan lokasi penyelaman di wilayah perairan kepulauan Mentawai, tetapi dari sembilan titik penyelaman masing-masing lokasi penyelaman memiliki keunikan yang berbeda-beda. Beberapa titik penyelaman yang berada di tempat terlindung memiliki jarak pandang kurang dari lima meter, namun memiliki karang yang cukup baik. Sedangkan beberapa titik penyelaman lainnya memiliki air yang sangat jernih dengan jarak pandang yang sangat baik.


Mentawai menjadi salah satu pemasok ikan hias
Memang, tidak selamanya perairan yang dalam kondisi jernih memiliki terumbu karang yang bagus, dan sebaliknya. Tapi kecenderungannya memang demikian adanya, korelasi antara keduanya bersifat positif. Dan seterusnya, jika kondisi terumbu karang baik umumnya disana akan dengan mudah ditemukan berbagai biota laut yang berasosiasi. Korelasi antara kondisi terumbu karang dengan kekayaan biota laut yang berasosiasi juga bersifat positif. Beberapa biota dan kelompok biota diketahui sebagai penghuni tetap pada ekosistem terumbu karang, misalnya berbagai jenis ikan karang, berbagai jenis ikan predator, berbagai jenis udang dan kepiting, berbagai jenis kerang dan keong, berbagai jenis teripang, bintang laut, penyu, ular laut, dan masih banyak lagi. Tapi ada kalanya beberapa biota justru melimpah dengan rusaknya terumbu karang, misalnya berbagai jenis nudibranch, berbagai jenis bulu babi, berbagai jenis lili laut dan lainnya. Sehingga beberapa biota atau kelompok biota laut telah dipercaya sebagai indikator kesehatan ekosistem terumbu karang di suatu perairan.

Koloni karang yang mengalami pemulihan terhadap kerusakan akibat gelombang dan gempa


Giant clam, dilema antara dilindungi dan diburu
Salah satu tujuanku melakukan trip penyelaman di wilayah perairan Kepulauan Mentawai ini adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan karang berdasarkan pengamatan biota dan kelompok biota indikator. Biota dan kelompok biota yang menjadi targetku antara lain bulu babi, keong pemakan karang, bintang laut bermahkota duri, lola atau susu bundar, kerang kima, teripang, lobster dan bintang laut biru. Bulu babi, keong pemakan karang, bintang laut bermahkota duri dan bintang laut biru merupakan kelompok biota yang bernilai ekologis bagi terumbu karang. Bulu babi atau sea urchin (echinoids) dan bintang laut biru diketahui sebagai kelompok biota indikator kerusakan karang. Keong pemakan karang (Drupella) dan bintang laut bermahkota duri (Acanthaster planci) diketahui sebagai biota yang dapat mengakibatkan kerusakan karang. Lola atau susu bundar (Trochus), kerang kima atau giant clams (Tridacna), teripang atau sea cucumbers (holothurians) dan lobster merupakan kelompok biota yang bernilai ekonomis bagi manusia. Keempat kelompok biota tersebut biasanya diambil oleh nelayan sebagai tengkapan sampingan selain ikan.


Terumbu karang sebagai habitat berbagai jenis ikan
Konon kabarnya, pernah terjadi pemanenan besar-besaran terhadap beberapa biota tersebut baik oleh nelayan lokal maupun nelayan dari luar daerah. Bahkan berdasarkan informasi dari masyarakat maupun dari dinas perikanan, ada minimal satu perusahaan penampung biota-biota tersebut beserta biota lain untuk tujuan ekspor ke China dan Korea. Kegiatan inilah yang diduga kuat menjadi penyebab utama menurunnya jumlah jenis dan jumlah individu berbagai biota yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Dari hasil wawancara singkat dengan berbagai pihak, beberapa tahun yang lalu Mentawai merupakan salah satu penghasil lobster dan ikan napoleon yang paling besar di wilayah Sumatra Barat. Namun kini kondisinya sudah jauh berbeda, hasil pengamatan di beberapa lokasi penyelaman tidak menemukan satu ekor pun ikan napoleon, lobster yang ditemukan pun tidak banyak dan hanya yang berukuran kecil. Bukti lain yang membuat cukup miris adalah sisa-sisa pengeboman yang kemungkinan besar dilakukan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Target pengeboman sebenarnya memang hanya beberapa jenis ikan saja, tetapi efeknya ke semua biota yang ada di radius beberapa meter dari pusat ledakan. Terumbu karang yang menjadi penyusun utama ekosistem hancur, dan butuh waktu yang relatif lama untuk memulihkan kembali ke keadaan yang seperti semula.


Karang dengan tipe pertumbuhan bentuk lembaran
Cerita kelam di masa lalu tersebut kini perlahan mulai pulih, didukung oleh kesadaran masyarakat serta penetapan beberapa kawasan menjadi kawasan lindung. Penyadaran kepada masyarakat nelayan juga telah dilakukan pemerintah pusat melalui kegiatan yang berada dalam naungan proyek COREMAP (coral reef management project). Kegiatan dalam proyek tersebut salah satunya adalah monitoring kesehatan terumbu karang yang dilakukan bersama masyarakat, dinas perikanan, organisasi non pemerintah dan universitas. Usaha penyadartahuan kepada masyarakat terbukti telah memperlihatkan hasil yang cukup signifikan. Biota-biota ekonomis penting sudah mulai terlihat melakukan regenerasi, dibuktikan dengan ditemukannya biota-biota tersebut dalam ukuran kecil. Terumbu karang juga sudah mulai membaik, sedangkan pengeboman kemungkinan sudah tidak ada karena sudah tidak ditemukan lagi bekas pengeboman yang masih baru.


Beberapa lokasi karang yang rusak diekspansi spons
Berita baik ini jika dapat ditingkatkan kualitasnya, minimal dipertahankan seperti yang sekarang ini, niscaya dalam waktu yang tidak lama lagi akan memulihkan ekosistem terumbu karang seperti sedia kala. Dan bukan tidak mungkin jika potensi ini digarap dengan baik oleh berbagai pihak, maka geliat pariwisata alternatif selain surfing akan semakin berkembang. Wisata selam yang saat ini masih dipandang sebelah mata karena kurangnya promosi ke dunia luar. Namun, paling tidak saat ini sudah mulai dilakukan kegiatan pemetaan potensi perairan sebagai lokasi penyelaman yang prospektif. Satu kelebihan lagi karena Mentawai memiliki bupati yang berasal dari kalangan aktivis lingkungan, dengan demikian harapan akan masa depan ekosistem terumbu karang yang cerah dan potensial tetap terbuka. Di samping itu, wawasan lingkungan yang juga memadai dari kepala dinas perikanan juga akan memberikan harapan. Semakin banyak pihak yang semakin peduli akan proses perbaikan ekosistem terumbu karang ini jika diimbangi dengan perbaikan sarana dan prasarana pendukung, maka pariwisata penyelaman di perairan Mentawai akan menjadi alternatif yang menjanjikan selain surfing.

Karang yang sehat memperlihatkan warna dan polip yang tumbuh sempurna


Kapal penyeberangan reguler 
Di darat tidak banyak yang dapat dijumpai, kecuali jika kita mengunjungi hutan kawasan konservasi dan merekam pola hidup suku asli Mentawai. Sayangnya aku bersama tim hanya merapat di pelabuhan dan berkeliling kota kecil itu. Kehidupan suku asli Mentawai yang kebanyakan hidup di hutan dan pedalaman sangat menarik untuk diabadikan dalam sebuah foto, film dokumenter atau cerita. Artikel yang mendokumentasikan kehidupan suku Mentawai sudah cukup banyak beredar di internet. Kegiatan berburu dan meramu menjadi bagian yang tak dapat dilepaskan dari kehidupan suku Mentawai, termasuk seni melukis tubuh. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tattoo yang telah banyak berkembang di dunia modern saat ini cikal bakalnya berasal dari seni melukis tubuh masyarakat suku Mentawai. Tattoo yang saat ini ada di masyarakat perkotaan telah berkembang dengan berbagai macam tujuan, bukan sebagai bagian dari tradisi. Jika masyarakat suku Mentawai melukis tubuh untuk tujuan tertentu sebagai bagian dari adat istiadat dan ritual yang sakral, tattoo yang saat ini dikenakan oleh masyarakat modern tujuannya lebih ke arah seni. Bahkan tattoo sering dijadikan sebagai tanda tertentu, sebagai identitas yang menunjukkan keanggotaan dalam sebuah gank. Tidak jarang tattoo diidentikkan dengan dunia kriminal karena banyak kasus kejahatan melibatkan orang yang memakai tattoo sebagai pelakunya.


Kota Tua Pejat di malam hari
Sayang sekali kedatanganku ke Mentawai kala ini aku tidak berkesempatan untuk mengunjungi pemukiman suku Mentawai tersebut. Aku hanya punya kesempatan beberapa jam untuk pergi ke darat, itupun untuk tujuan menyelesaikan urusan administrasi. Tua Pejat, sebuah kota yang merupakan kota yang sungguh sepi, jauh dari bayanganku sebagai ibukota dari kabupaten Mentawai. Mobil berkeliaran di jalanan adalah pemandangan yang langka, apalagi jika hari sudah beranjak gelap. Sarana transportasi darat baru dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir, dimana sebelumnya alat transoprtasi utama adalah dengan alat transportasi laut. Kebanyakan penduduk di kota tersebut adalah pendatang yang berasal dari daratan utama pulau Sumatra, terutama dari kota Padang dan sekitarnya. Perkembangan wilayah kota sepertinya berjalan sangat lambat, mungkin kondisinya tidak akan jauh berubah sampai beberapa waktu ke depan. Mentawai, mungkin memang lebih baik menjadi sebuah tempat yang tidak terlalu banyak mendapat pengaruh modernisasi. Karena memang keunggulan Mentawai terletak pada keunikan tradisi dalam masyarakat suku asli dan eksotisme alamnya.





Padang, 30092014, 07:35pm



*catatan seorang pejalan